Beberapa Hari di Mini Market (Harap Mengantri)

Saya suka heran, benar benar heran. Sudah beberapa kali ini kejadian ini terjadi, jadi harap perbolehkan saya men-general manusia manusia di tulisan saya ini.

Kadang saya bingung, salahkan saya mencoba mengunci mulut saya ketika antrian saya disalip orang?

Entah sudah tidak terhitung berapa kali antrian saya disalip orang. Saya hanya menfokuskan bahasan saya pada minimarket franchise seperti alf*mart atau indo*art. Saya menekankan ini karena pada minimarket tersebut, posisi antrinya sudah pas. Which is mean, kalau ada yang “nyalip” pasti ketahuan. Tinggal si “penyalip” ada malu atau gak dengan para hadirin yang mengantri.

Contoh-contoh orang yang biasa menyalip :

  • Anak kecil dan Ibunya, biasanya kalau belanjaan si ibu dan anak hanya sedikit, si Ibu “seolah” menyuruh si anak kecil nyalip antrian orang dewasa. Sedangkan si Ibu, cuek-cuek bebek menunggu dekat pintu keluar. In my point of view : Dari kecil udah dibiarin nyalip? gimana gedenya? Please deh duhai parents! Minta maaf atau say something aja gak!
    Untungnya saya masih sering melihat orang tua yang minta maaf ketika anaknya berbuat “agak” bandel. Bahkan tidak sedikit orang tua meminta si anak minta maaf juga kepada saya. Saya bersyukur dulu ibuku agak “galak”. Boro-boro nyalip antrian, ribut dirumah orang atau ngerepotin tuan rumah aja gak berani. Even makan dalam porsi lumayan di rumah teman saja saya sungkan. Kalau Ibu bilang “tidak boleh”, oke, tidak akan saya lakukan.
    Saya juga sempat menonton sebuah acara kontes anak-anak di TV, dimana sang anak dieliminasi. Saya pikir, wajar saja di eliminasi. Saya merasa ketika berdialog dengan juri bahkan ibunya sendiri terkesan tidak sopan dengan sedikit berteriak. Seolah semua isi dunia harus nurut dengan dia. Bahkan si juri pun sempat menegur dengan bilang , “Sayang.. lain kali kalau ngomong dengan Ibu nya yang sopan yah.” . Ketika dieliminasi? Wah, sesuai perkiraan, ngamuk, nangis, menolak dicium sama sang juri. Intinya, ya ngambek.
     Dear Mom and Dad : Ajarilah anak anda hal yang baik sedini mungkin. Tanpa anda sadari, perilaku anda yang seperti itu terekam loh di memori sang anak. Takutnya, lama lama dia menganggap menyalip antrian hal yang wajar. Semoga hanya masalah antrian ya bu, yang lain nya tidak ikut ikut disalip. Sejujurnya saya kurang setuju kalau anak salah tidak ditegur dengan alasan “dia kan masih anak anak” atau “takutnya trauma kalau ditegur”. Kalau ditegur lemah lembut mah gapapa, kecuali kalo dipukulin pantatnya pas ditegur. Baru gaboleh.
  • Bapak-bapak/ Ibu-Ibu cuek , ini tidak perlu dijelaskan panjang lebar yah. Yah intinya, saya mengantri, tepat didepan saya tiba-tiba ada bapak-bapak, nyalip, dilayani duluan pula sama sang kasir. Sebenernya sang kasir tau saya disalip, cuma yoweslah, mungkin si kasir gaenak. Takutnya yang nyalip punya jabatan trus digebuk kali (ups). Masalah kedua, saya udah ngeliatin si bapak dari lama, dan si bapak sangat terlihat tidak mau melihat ke arah saya. Sadar kali ya salah. Pernah juga kejadian ini terjadi dengan ibu-ibu, dengan si ibu-ibu bilang “duluan ya, soalnya punya saya cuma dikit”.

In My point of view : Ini niiiih, orang tua yang bikin anaknya hobi nyalip, hahahha. Yah karena kasusnya udah gede, saya juga salah gak negur. Simple sih alasannya, mereka lebih tua. Kadang saya iri sama ibu-ibu lain yang tega negur orang lain yang menyalip antrian mereka.

Kata penutup :

Ah,, andai aku orang nya tegaan. (Dari lahir saya orangnya gaenakan 🙁 )

Sebenernya banyak kejadian lain, seperti di toko kelontong lah, restoran lah. Cuma karena rata-rata sistem antriannya amburadul, jadi saya sih santai. Fuh, berlebihankah saya kalau saya merindukan masa kecil saya dimana semuanya sistematis nan lancar. Yang saya liat, beberapa manusia ini sudah mulai “egois” dan “don’t care what people say”. Terlihat juga dengan kejadian di busway (dimana para gadis-gadis tidur pulas di kursi masing-masing sementara Ibu-Ibu tua atau yang bawa anak pada gak dapet tempat duduk). Dimanakah letak saraf kepekaan kalian 🙁 . Lama- lama saya harus negur kayaknya.

Pesan terakhir :

Banyak banyak istighfar 🙂

Published by

meutiafitrihasan

Meutia Fitri Hasan is a proud Indonesian, Geologist who also learn about Petroleum Engineer, Blogging since 2011, Lucky for having a good husband and a handsome son.

0 thoughts on “Beberapa Hari di Mini Market (Harap Mengantri)”

  1. Hehe sama mbak kayak saya. Saya berusaha lho disiplin ngantri. Terlebih sekarang setelah saya punya anak. Saya berusaha memberi contoh sama anak saya. Ketika anak merengek, saya akan bilang,,kita ngantri ya dik,,lihat semua antri. Jengkel kalau ada yg nyalip gitu. Kadang kalau hati saya lagi selow saya cuma liatin aja si pelaku, tapi kalau saya lagi galak..saya pasti nyeletuk. Antri dong…biasanya yg bengong malah kasirnya. Hehe bener2 kesadaran diri rendah ya..

    1. hahaha keep being a discipline mother mbak niken! semoga langkah kecil kita memberi inspirasi untuk yang lain..

Leave a Reply

Your email address will not be published.